Selasa, Maret 10, 2009

Hari Valentine; Sepanjang Hari

Oleh Ruslan H. Husen

Memasuki bulan februari ini, hampir di setiap tempat-tempat keramaian baik supermarket, pertokoan, dan kantor manampakkan simbol-simbol hari valentine. Mulai dari warna merah jambu yang mendominasi langit-langit gedung itu, sampai pada gambar hati yang terpampang didinding.

Bukan itu saja, diberbagai media cetak dan media elektronik banyak memuat ”selamat hari valentine”, hari berkasih sayang terhadap orang yang dicintai atau orang terdekat. Dalam momen itu ekspresi kasih sayang dan perhatian diwujudkan, biasanya dengan memberikan hadiah-hadiah yang disenangi si-penerima. Bahkan hari itu diikuti dengan pertemuan dan perjamuan yang banyak memakan energi dan dana.

Nalar publik ini telah menggejala dengan sedemikan hebatnya dengan populis dikalangan muda-mudi generasi masa depan, bahkan dikalangan ibu-ibu tanpa melakukan seleksi terhadap yang dilakukan. Memang yang dominan adalah ikut-ikut tanpa pertimbangan matang (takliq buta). Nalar yang telah berakar dan terakui sebagai kebenaran dan hasil perkembangan zaman modern, yang mengikuti akan dikatakan modern dan yang tidak akan dikatakan ketinggalan zaman dan kuno.

Sungguh sangat idonis, hari valentine pula jadi momen legalitas hubungan kearah seks bebas dan pergaulan bebas. Sebab disana ada ekspresi dalam memberikan kasih sayang, dengan berbagai macam tampilannya. buaian-rayuan menjadi hal yang lumrah bagi sepasang sejoli yang memadu kasih. Bahkan jika tidak ada ungkapan kasih sayang itu, hubungan menjadi tidak harmonis.

Sejarah Hari Valentine
Legenda tentang hari valentine ini memang ada beberapa bagian dan fersi, tetapi yang lebih populis adalah, ketika kerajaan Romawi di pimpin Kaisar Claudius II (268-270 M) sekitar abad III Masehi. Pada saat itu, kerajaan romawi banyak terlibat perang berdarah-darah dengan kerajaan lain, baik mempertahankan negara maupun melakukan ekspansi. Kaisar bercita-cita memiliki pasukan tempur yang tanggung, sehingga berlaku wajib militer terhadap para pemuda. Konsentasi negara juga mengutamakan penguatan kekuatan militer, dan metode dan taktik berperang.

Dari itu kaisar mengeluarkan kebijakan yang melarang prajurit-prajurit untuk menikah. Menurutnya dengan menikah dapat mengurangi semangat dan progresif dalam berperang, prajurit yang terbaik adalah yang tidak menikah. Sebab dengan menikah prajurit akan malas pergi berperang, karena terikat dengan anak isteri.

Kebijakan itu tentu mendapat perlawanan dari rakyatnya, karena alasan menentang fitrah kemanusiaan dan menghalangi kebutuhan kemanusiaan. Tetapi, bagi rakyat yang tidak mau mengambil resiko untuk berhadapan dengan kekuasaan negara yang kejam lebih memilih berlindung dalam ketiak-kekuasaan kaisar.

Diantara penentang kebijakan Kaisar yang tidak mau tunduk-patuh atas kebijakan itu adalah Santo Valentino dan Santo Marius. Keduanya adalah pendeta katolik yang tetap menikahkan muda-mudi yang larut akan cinta. Kegiatan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar kaisar tidak mengetahui, tanpa nyanyian pemberkatan, tanpa lagu-lagu pengagungan. Semuanya dilakukan demi kewajiban sebagai pendeta terhadap penganut agama katolik lainnya.

Walaupun kegiatan yang dilakukan oleh Santo Valentino dan Santo Marius itu secara sembunyi-sembunyi, akhirnya keberanian keduanya terdengar juga oleh Kaisar. Kaisar Cladius II sangat marah, lantas kaisar memerintahkan prajuritnya untuk menangkap kedua pendeta itu. Penangkapan terjadi saat Valentino dan Marius tengah melakukan prosesi pernikahan sepasang muda-mudi, namun kedua muda-mudi itu berhasil lolos dan bebas.

Valentino dan Marius setelah disidang di kerajaan lalu dijatuhi hukuman mati. Keduanya lantas menjalani proses hukuman itu, walaupun mereka selalu melakukan penentangan dan pembelaan bahwa yang mereka lakukan itu adalah sebuah kebenaran yang termasuk hukum Tuhan.

Di dalam penjara itu sebelum menjalani hukuman mati, seorang Valentino sering dikunjungi seorang gadis. Gadis itu dengan tekun menjenguk dan membawakan makanan bagi Valentino. Darinya pula keluar surat-surat Valentino kepada khalayak ramai yang memuat pesan-pesan cinta dan perlunya kasih sayang antar sesama manusia.

Setelah kematian Vakentino dan Marius, orang-orang selalu mengingat keduanya dan merayakannya sebagai bentuk ekspresi cinta kasih Velentino. Dua ratus tahun kemudian yakni tahun 496 Masehi setelah kematian Valentino dan Marius, Paus Galasius meresmikan tanggal 14 Februari 496 sebagai hari Valentine.

Nalar Publik Hari Velentine

Di abad 16 masehi, perayaan Valentine yang semula merupakan ritual agama Kristen Katolik untuk memuliakan dan memperingati kematian Santo Valentino dan Santo Marius telah bergeser menuju keperayaan perjamuan kasih sayang, seperti yang dirayakan oleh bangsa Romawi Kuno pada tiap tanggal 15 Februari .

Sedangkan pada abad pertengahan di dalam bahasa Prancis-Normandia terdapat kata ”Galentine” yang berasal dari kata Galant yang berarti cinta, persamaan bunyi antara Gealentine dan Valentine disinyalir telah memberikan ide kepada orang-orang Eropa bahwa sebaiknya pada tanggal 14 Februari digunakan untuk mencari pasangan dan kini Valentine telah tersakralkan dalam peradaban barat, khususnya Eropa .

Hari Valentine itu dari zaman ke zaman mengalami perkembangan dan perubahan. Perubahan itu diakibatkan peradaban manusia, yang telah meninggalkan suasana tradisonal menuju kepada keadaan serba mesin dan canggih. Sehingga perayaan hari Valentine sekarang tidak sama dengan perayaannya terdahulu.

Perayaan Valentine sekarang lebih pada ajang hura-hura dan ikut-ikutan dengan memon menyatukan semua generasi tanpa harus mengetahui akar lahirnya momen ini. Lihat saja, bukan hanya muda-mudi yang membagi-bagikan bunga atau kenang-kenagan tetapi juga diikuti dengan ibu-ibu (tante-tante). Bahkan semua komponen masyarakat ikut memberikan kontribusi demi lancarnya kegiatan tersebut.

Media massa salah satunya, dengan giat mempromosikan hari Valentine dengan memunculkan simbol-simbol yang mengeksploitasi kebutuhan dan sakralisasi kemanusiaan. Yang terjadi antara persaingan bisnis demi keuntungan dengan hegemoni nalar publik.
Bukankah media massa selama ini berusaha mencari perhatian publik sebanyak-banyaknya, sehingga momen Valentine ini menjadi ladang yang menggiurkan. Dengan terpusatnya perhatian konsumen pada acara media massa itu, bobot ekonomi iklan juga akan meningkat.

Dengan hal itu, masyarakat menjadikan Valentine sebagai momen yang legal dan sakral dari sisi kebudayaan dan perkembangan zaman. Suatu hal yang dilakukan secara terus menerus, tanpa putus-putusnya walaupun hal itu keliru dan tidak memiliki pijakan epistemologi yang kokoh maka akan muncul dalam nalar publik bahwa itu adalah suatu kebenaran. Demikian pula momen valentine, apabila dilakukan secara terus menerus maka akan terbentuk dalam nalar publik bahwa itua adalah kebenaran.

Kapitalisme adalah pihak yang sangat diuntungkan dengan momen ini, dimana produk-produk dari luar maupun dalam negeri akan laris dipasaran karena kebutuhan yang meningkat seiring dengan kampanye mereka di media massa. Artinya hari Valentine digunakan untuk mencari keuntungan tanpa memikirkan kerusakan dari sisi kemanusiaan. Bukankah dengan ini akan mudah terjadi pergaulan bebas dan seks bebas sebagai kelayakan dalam hari kasih sayang dan pengorbanan.

Penutup
Perayaan hari Valentine sekarang tidak memiliki pijakan epistemologi yang kokoh, lebih didasarkan pada ikut-ikutan dan mencari kesenangan semu dan sementara yang dapat mengakibatkan dehumanusasi dan desakralisasi. Yang salah satu sisinya, ungkapan kasih sayang diaktualkan hanya dalam hari itu tanggal 14 februari, dengan saling berbagi kenang-kenangan.

Padahal kasih sayang hendaknya diaktualkan dalam setiap saat dan tempat. Kasih sayang adalah kebutuhan setiap makhluk, darinya keberlangsungan kehidupan dapat berlangsung yang tidak dapat dibatasi dengan sehari saja. Akan lebih bermakna hidup jika kasih sayang dilestarikan setiap hari selama ada kehidupan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Semoga.

0 komentar: